CV hasan

Mengapa saya tertarik menulis buku teks pelajaran (buku dars) ?

1.    Bahasa Arab memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman, termasuk di Madrasah Tsanawiyah (MTs), maka pelajaran ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dari berbagai pihak untuk mendorong, membimbing, mengembangkan, dan membina kemampuan peserta didik dalam penguasaan bahasa Arab baik reseptif maupun produktif, serta menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa tersebut. Namun selama ini, sarana untuk pengembangan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, khususnya di sekolah-sekolah formal, termasuk di MTs, belum mengalami perkembangan yang memadai termasuk dalam penyediaan buku-buku pelajaran. Untuk itu, sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, saya merasa terpanggil untuk berpartisipasi menyusun sebuah buku pelajaran bahasa Arab untuk MTs ini, sebagai sebuah pengabdian dan upaya membantu para siswa khususnya dan juga para pengajarnya dalam penguasaan berbagai keterampilan bahasa Arab secara efektif dan efisien serta menyenangkan.

2.    Dari sisi isi buku, paling tidak, sampai buku saya ditulis, belum ada buku teks pelajaran bahasa Arab yang menyajikan empat keterampilan bahasa Arab secara memadai, terutama pada keterampilan menyimak. Padahal dalam kurikulum (permenag no. 2. Tahun 2008), aspek istima’, termasuk salah satu standar kompetensi yang harus dikuasai siswa. Oleh karena itu saya mencoba menawarkan buku yang memuat semua aspek keterampilan bahasa, termasuk, dengan segala keterbatasan, aspek istima.

3.    Dari sisi tampilan, selama ini, saya melihat bahwa tampilan buku bahasa Arab itu terkesan tidak menarik, monoton, dan membosankan. Hal ini ditandai dengan minimnya media gambar yang menyertai teks bahasa Arab, baik teks dialog (hiwar) maupun qiraah. Padahal keberadaan gambar yang mengilustrasikan isi kandungan teks sangat diperlukan untuk membatu mempermudah pemahaman dan kontekstualisasi pembelajaran. Yang lebih memprihatinkan lagi, selama ini, banyak buku teks pelajaran bahasa Arab yang dicetak dengan kertas koran, bukan hvs. Kondisi seperti ini semakin memperkuat kesan bahwa bahasa Arab itu tidak menarik   dan membosankan. Oleh karena itu, saya mencoba menawarkan buku teks pelajaran bahasa Arab yang menampilkan banyak ilustrasi gambar, walaupun masih satu warna, dan mencetaknya dengan kertas hvs. Hal ini dilakukan untuk membantu mempermudah pembelajaran, untuk mengkontekstualisasikan makna, dan pengennya membuat bahasa Arab itu tampil elegan, menarik perhatian, dan disukai siswa. Lihat misalnya tampilan buku teks pelajaran bahasa Inggris !!!!

 

Sekilas CV saya

Hasan Saefuloh, M.Ag.

lahir di Subang, 04 Mei 1971. Pendidikan dasar dan menengah tingkat pertama (SD dan MTS) ditempuh di tempat kelahirannya sampai tahun 1987. Setelah tamat MTS, melanjutkan pendidikannya ke Kulliyyatul Mu’allimin al-Islamiyyah (KMI) Pondok Modern Darusalam Gontor Jawa Timur dari tahun 1987 s/d 1991. Setelah tamat dari KMI Gontor, melanjutkan studi di IAIN Sunan Gunung Djati Bandung Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan bahasa Arab dari tahun 1992 s.d 1996. Selama menjadi mahasiswa, beliau aktif dalam berbagai aktivitas kampus, baik di organisasi intra maupun ekstra kampus. Kemudian melanjutkan ke program Pascasarjana IAIN Jakarta dari tahun 1997 s.d 1999. Setelah memperoleh gelar magister pada bidang Pemikiran Islam, tahun 1999, beliau berkesempatan mengikuti program pembibitan Calon Dosen (CADOS) yang diselenggarakan oleh Departemen Agama Pusat selama 6 bulan di kelas bahasa Arab.

Saat ini, suami dari Ibu Iin Inayah, S. Ag dan ayah dari tiga orang anak ini (Arini Cahya Robbani, 12 th, Salman Farhani, 7 th, dan Azka Wildana, 3 th) tercatat sebagai dosen bahasa Arab di IAIN Syekh Nurjati sejak tahun 2000 sampai sekarang dan dalam proses penyelesaian program doktor (S3) pada program Study Pendidikan Bahasa Arab UIN Bandung. Intensitasnya pada diskursus bahasa Arab menggiringnya untuk menjabat sebagai Sekretaris Pusat Bahasa dan Budaya (PBB) STAIN Cirebon periode 2002 – 2006, Kepala Pusat Bahasa dan Budaya (PBB) STAIN Cirebon periode 2006-2010, dan Sekretaris Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA) IAIN Cirebon periode 2011-2014. Disamping sebagai dosen, beliau juga aktif mengikuti pertemuan-pertemuan ilmiah, diskusi, seminar, pelatihan dan sebagainya, khususnya dalam bidang pengembangan pembelajaran bahasa Arab, baik yang diselenggarakan secara lokal, regional maupun nasional dan Internasional.

Beberapa karya ilmiahnya yang telah dipublikasikan adalah :

  1. A.   Jurnal dan Penelitian
  2. al-‘Arabiyyah li al-Nasyi’in ka al-Kitab al-Madrasi li Thulab al-Jami’ah (Jurnal Lektur, 2003)
  3. al-Thariqah al-Shamitah: nazrah fi Imkaniyati Tathbiqiha fi Ta’lim al-Lughah al-Arabiyah li al-Nathiqin bi Lughat Ukhra (Jurnal Lektur, 2005)
  4. al-Ta’lim al-Fa’al: Tanmiyatu Nau’iyyat ‘Amaliyyat Ta’lim al-Lughah al-‘Arabiyyah wa Ta’allumiha li al-Nathiqin bi Lughatin Ukhra (Jurnal Lektur, 2006)
  5. Mudarris al-Lughah al-Arabiyah al-Kufu’ (Jurnal Lektur, 2008)
  6. Persepsi mahasiswa terhadap gaya mengajar dosen Bahasa Arab di Pusat Pengembangan Bahasa (PPB) IAIN Cirebon (Penelitian DIPA 2008)
  7. Pengembangan Buku Ajar Bahasa Arab Madrasah Aliyah di Kota Cirebon (Penelitian DIPA 2011)

 

  1. B.   Buku
  1. Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab (Pustaka Rihlah, 2006),
  2. Ayo Memahami Bahasa Arab jilid 1, 2 dan 3 untuk MTS/SMPI (Erlangga 2009),
  3. Strategi Pembelajaran Bahasa Arab, terjemah : Asalaib Tadris Al-Lugah Al-‘Arabiyyah, Karya Dr. Ali Al-Khuli (Basan Publishing, 2010).
  4. Aku Bisa Bahasa Arab untuk SMA Program Pilihan Kelas XII (Basan Publishing, 2010).
  5. Durus al-Lugah al-‘Arabiyyah Li Barnamaj Ta‘līm al-Lugah al-‘Arabiyyah al-Mukatsaf (Nurjati Publisher 2010),
  6. Al’ab Lughawiyyah (Basan Publishing, 2010)
  7. Aku Bisa Bahasa Arab untuk SMA Program Pilihan Kelas  X dan XI  (Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kemendikbud, 2011)
  8. Mengenal TOAFL.  (Nurjati Publisher 2011)
  9. Ayo Fasih Berbahasa Arab Madrasah Aliyah Jilid 1, 2, dan 3 (Erlangga, 2012)

Pembelajaran istima’

Pembelajaran istima’

by: Hasan S

Dalam konteks pembelajaran bahasa Arab terdapat empat keterampilan dasar berbahasa yang harus dikuasai siswa, yaitu keterampilan menyimak (mahārat al-istimā’), keterampilan berbicara (mahārat al-kalām), keterampilan membaca (mahārat al-qirā’ah), dan keterampilan menulis (mahārat al-kitābah). Menyimak dan berbicara adalah dua keterampilan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Arab secara lisan, sedangkan membaca dan menulis adalah dua keterampilan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Arab aecara tulisan.

Selain keempat keterampilan di atas, ada aspek lain yang tidak kalah pentingnya dan ikut mempengaruhi ketercapaian tujuan pembelajaran bahasa Arab secara komprehensif. Aspek tersebut adalah unsur-unsur bahasa (al-anāshir al-lughawiyyah), yaitu fonologi (ashwat), morfologi (sharaf), sintaksis/Kalimat (nahwu), semantik (dalālah), dan kosakata (mufradāt).

Dilihat dari sisi bentuk komunikasi yang dilakukan, keterampilan menyimak (mahārat al-istimā’), merupakan salah satu bentuk keterampilan berbahasa yang diklasifikasikan sebagai keterampilan berbahasa pasif (reseptif), dimana salah satu pihak berperan sebagai pengirim pesan (pembicara/penutur), sedangkan pihak lain (dalam hal ini, si pendengar), berperan sebagai penerima pesan.

Keterampilan menyimak sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari keterampilan berbahasa lainnya, yaitu berbicara, membaca, dan menulis. Kompetensi seorang siswa dalam keterampilan menyimak dapat diketahui wujudnya dalam menyampaikan atau mengungkapkan informasi secara lisan atau menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dalam kegiatan membaca, kita akan dengan mudah memahami bahan bacaan, jika isi bahan bacaan tersebut telah kita dengar sebelumnya, baik melalui pembelajaran formal maupun non formal. Demikian juga dalam kegiatan menuangkan gagasan lewat tulisan. Kita akan mampu dengan mudah melakukan aktivitas menulis, jika kita kaya informasi, baik yang diperoleh melaui kegiatan menyimak maupun melalui kegiatan membaca.

Dengan kata lain, keterampilan menyimak merupakan sarat mutlak berkembangnya aspek linguistis dan kognitif manusia dalam mengakses informasi, serta menjadi mediator dalam proses pemerolehan dan pengembangan keterampilan bahasa secara komprehensif.

Para peneliti baru-baru ini memberikan statement berkaitan dengan alokasi waktu yang dipergunakan manusia untuk berkomunikasi. Adapun hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

  1. dari jumlah total waktu yang dimiliki manusia, sebanyak 45% mereka gunakan untuk menyimak pembicaraan orang lain.
  2. dari jumlah total waktu yang dimiliki manusia, sebanyak 30% mereka gunakan untuk berbincang-bincang dengan orang lain.
  3. dari jumlah total waktu yang dimiliki manusia, sebanyak 25% mereka gunakan untuk kegiatan berbahasa lainnya, seperti membaca dan menulis[1].

Sedangkan hasil penelitian terhadap anak usia pendidikan dasar (SD) menyebutkan bahwa 50% dari waktu belajar siswa di sekolah digunakan untuk menyimak, sedangkan sisanya digunakan untuk kegiatan lainnya.

Hasil penelitian lain, seperti yang dilakukan seorang ahli Amerika Serikat,  Donald E Bird dalam Djago Tarigan[2] (1986:48) menunjukan bahwa kegiatan menyimak mahasiswa Stephen College Girls adalah  42% untuk kegiatan menyimak,  25%  kegiatan berbicara, 15% kegiatan membaca, dan  18% untuk kegiatan menulis.

Hasil-hasil penelitian diatas semakin  membuktikan bahwa dalam   kegiatan pembelajaran bahasa serta dalam kehidupan  sehari-hari, menyimak memegang peran yang sangat penting dan dominan.

Fuad effendi[3] mengatakan bahwa salah satu prinsip linguistik menyatakan bahwa bahasa itu pertama-tama adalah ujaran, yakni bunyi-bunyi bahasa yang diucapkan dan bisa didengar. Maka, atas dasar prinsip tersebut,  beberapa ahli pengajaran bahasa menetapkan satu prinsip bahwa pengajaran bahasa harus dimulai dengan mengajarkan aspek-aspek pendengaran dan pengucapan (ranah lisan) sebelum membaca dan menulis (ranah tulisan). Bahkan ada aliran yang menyatakan dengan tegas bahwa urutan keterampilan bahasa yang akan disampaikan kepada para siswa harus mengikuti urutan secara hirarkis : istimā – kalām – qirāah – kitābah.

Dengan demikian, pembelajaran keterampilan menyimak (mahārat al-istimā’) merupakan  pengalaman belajar yang amat penting bagi para siswa dan seyogyanya mendapat perhatian sungguh-sungguh dari pengajar.

Berkaitan dengan pentingnya mendahulukan pembelajaran istimā sebelum keterampilan bahasa lainnya, Ahmad Fuad Mahmud ‘Ilyan[4] mengemukakan beberapa alasan berkaitan dengan fungsi indera pendengaran dibanding dengan indra lainnya. Menurut beliau bahwa:

(1)     Indra pendengaran manusia yakni telinga merupakan alat interaksi manusia yang pertama berfungsi pasca kelahirannya. Beberapa ahli menyebutkan bahwa Indra pendengaran manusia mulai berfungsi pada hari ketiga pasca kelahiran. Sedangkan indra penglihatan manusia mulai berfungsi pada hari ketujuh pasca kelahiran.

(2)     Indra pendengaran manusia yakni telinga dapat berfungsi di semua arah. Dalam arti, manusia dapat mendengar suara-suara, baik yang berasal dari arah belakang, depan, sebelah kanan, sebelah kiri, bahkan dari dari tempat yang relatif jauh sekalipun tanpa melihat sumber suara tersebut.

(3)     Indra pendengaran manusia yakni telinga dapat berfungsi, baik dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. Hal ini terjadi karena telinga tidak memiliki tutup sebagaimana yang ada pada mata. Di mana, pada saat tidur, kelopak mata akan menutup mata, sehingga mata tidak dapat berfungsi.

Pendengaran merupakan indra terpenting bagi manusia. Sebab, dengan mendengarkan manusia dapat berbicara, dapat mengaktualisasikan dirinya serta dapat mempelajari banyak hal. Dengan mendengarkan pula, manusia dapat menggapai apa yang ia inginkan. Pantaslah bila ada yang mengatakan bahwa, “disfungsi yang terjadi pada indra pendengaran dapat menimbulkan miskomunikasi”. Oleh sebab itu, bila seorang bayi lahir dengan indra pendengaran yang cacat, ada kemungkinan kemampuan berbicaranya juga akan terhambat, bahkan bisa saja bayi tersebut tak dapat bicara (bisu).

Kamal Ibrahim Badri[5] mengemukakan bahwa dalam pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa Asing ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh para guru. Menurutnya, paling tidak, ada lima prinsip penting dalam pembelajaran bahasa Arab, yaitu: Aulawiyat al-taqdim (Prinsip Prioritas), Al-diqqah (Prinsip Akurasi), Al-tadarruj (Prinsip Gradasi), unshur al-tasywiq (Prinsip Pemberian Motivasi), dan Al-shalabah wa al-matanah (Prinsip Validasi).

Yang termasuk kedalam prinsip Prioritas, diantaranya adalah: Menyimak dan bercakap lebih didahulukan dari pada latihan membaca dan menulis; Mengajarkan kalimat lebih didahulukan dari pada mengajarkan kata; Mengajarkan kosa kata yang sering dipakai/berfrekwensi tinggi harus lebih didahulukan sebelum kosa kata yang lainnya.

Walaupun  kegiatan dan keterampilan menyimak  memiliki peran yang sangat besar dalam program pembelajaran bahasa Arab, namun pembelajaran menyimak di sekolah-sekolah sampai saat ini belum mendapat perhatian yang memadai. Hal itu sedikit banyaknya, sebagaimana dikatakan oleh Fadhil Fathy Muhammad Waly[6] dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:

  1. Missinterpretasi terhadap ciri khas kegiatan menyimak, urgensi serta pengaruh menyimak terhadap keterampilan bahasa lainnya.
  2. Adanya persepsi yang mengklaim bahwa keterampilan menyimak berkembang dengan sendirinya secara bertahap seiring perkembangan manusia mulai fase anak-anak hingga fase dewasa.
  3. Adanya teori sebagian pakar yang mengklaim bahwa keterampilan menyimak sudah include dalam keterampilan membaca. Sehingga, para pakar tersebut mencetuskan teori read to listen.
  4. Minimnya para peneliti dan pemerhati yang melakukan studi terhadap keterampilan serta pengaruh menyimak terhadap keterampilan bahasa lainnya.
  5. Minimnya pengalaman para pengajar bahasa, sehingga mereka hanya mau mengajarkan bahasa seperti saat mereka belajar puluhan tahun yang lalu[7].

Kalau kita perhatikan, buku-buku teks pelajaran bahasa Arab yang ada dan beredar di sekolah-sekolah kita, dari tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi, khususnya yang ditulis oleh penulis pribumi (orang Indonesia), masih sangat jarang yang memuat materi pelajaran istimā’ secara khusus.

Perhatian terhadap pembelajaran istimā’ baru mengemuka sejalan dengan diterapkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, yang realisasinya untuk mata pelajaran Bahasa Arab, terdapat pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) sesuai Permenag no. 2. Tahun 2008[8]. Pada kurikulum KTSP ini, keterampilan menyimak termasuk salah satu Standar Kompetensi mata pelajaran bahasa Arab yang harus dikuasai oleh siswa pada tiap satuan pendidikan (MI, MTs, dan MA).

Kondisi seperti ini, berdasarkan pengamatan penulis di beberapa MTS dan MA di Kota dan Kabupaten Cirebon, membuat para guru masih kebingungan dalam mengimplementasikan kegiatan untuk pembelajaran keterampilan menyimak. Selain karena belum adanya panduan pembelajaran keterampilan menyimak dalam buku ajar yang digunakan selama ini, juga karena minimnya pengalaman sebagian guru bahasa Arab untuk mengembangkan sendiri model pembelajaran keterampilan menyimak. Sehingga jalannya pembelajaran menyimak, hampir tidak ada bedanya dengan pembelajaran berbicara dan membaca, karena materi atau bahan ajar menyimak yang disediakan dalam buku ajar yang menjadi rujukan mereka sulit dimplementasikan, karena penyajian bahan ajar menyimak dalam buku-buku tersebut sama saja dengan  bahan ajar berbicara atau membaca[9].

Untuk memberikan gambaran dan panduan dalam kegiatan pembelajaran keterampilan menyimak bagi para guru bahasa Arab, para mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA), dan para pemerhati serta praktisi pembelajaran Bahasa Arab pada umumnya, di bawah ini akan diuraikan beberapa hal yang berkaitan dengan pembelajaran keterampilan menyimak, seperti: Hakekat istimā’, Tujuan Pembelajaran istimā’,  Sarana/media Pembelajaran istimā’, Teknik Pembelajaran istimā’, Materi Pembelajaran istimā’, Peran Guru dalam Pembelajaran istimā’, , dan  Evaluasi Pembelajaran istimā’.

Bersambung……


[1] Fadhil Fathy Muhammad Waly. 1998.Tadris al-Lughah al-Arabiyyah Fy al-Marhalah al-Ibtida’iyyah: Thuruquhu, Asalibuhu, Qadhayahu. Ha’il: Dar al-Andalus Li al-Nasyr wa al-Tauzi’. Hal. 145

[2] Djago Tarigan dan Henry Guntur Tarigan. 1986. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Hal. 48.

[3] Ahmad Fuad Effendy. 2004. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat. Hal. 100

[4] Ahmad Fuad Mahmud ‘Ilyan. 1992. Al-Maharat al-Lughawiyah: Mahiyatuha wa Thara’iq Tadrisiha. Riyadh: Dar al-Muslim Li al-Nasyr wa al-Tauzi’. Hal. 49

[5] Lihat, Badri, Kamal Ibrahim. 1407. Usus Ta’lim al-Lughah al-Ajnabiyah dalam Mudzakarat al-daurat al-tarbawiyah. Al-Mamlakah al-Arabiyah al-Su’udiyah, Jami’at al-Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah, Ma’had al-Ulum al-Islamiyah wa al-Arabiyah bi Indunisia, hal. 3

[6] Fadhil Fathy Muhammad Waly, ibid. Hal 144

[7] Lihat juga Rusydi Ahmad Thaa’imah. Al-Marji’ Fy Ta’lim al-Lughah al-Arabiyyah Li al-Nathiqin Bi Lughat Ukhra. Juz. 2. Makkah: Jami’at Umm al-Qura. Hal 419-420.

[8] Lihat Permenag no. 2. Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi

[9] Berdasarkan pemantauan penulis, mayoritas MTS dan MA di Kota dan Kabupaten Cirebon menggunakan LKS sebagai satu-satunya rujukan dan pegangan siswa dalam pembelajaran bahasa Arab.

Pembelajaran istima’

Pembelajaran istima’

by: Hasan S

Dalam konteks pembelajaran bahasa Arab terdapat empat keterampilan dasar berbahasa yang harus dikuasai siswa, yaitu keterampilan menyimak (mahārat al-istimā’), keterampilan berbicara (mahārat al-kalām), keterampilan membaca (mahārat al-qirā’ah), dan keterampilan menulis (mahārat al-kitābah). Menyimak dan berbicara adalah dua keterampilan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Arab secara lisan, sedangkan membaca dan menulis adalah dua keterampilan yang berkaitan dengan penggunaan bahasa Arab aecara tulisan.

Selain keempat keterampilan di atas, ada aspek lain yang tidak kalah pentingnya dan ikut mempengaruhi ketercapaian tujuan pembelajaran bahasa Arab secara komprehensif. Aspek tersebut adalah unsur-unsur bahasa (al-anāshir al-lughawiyyah), yaitu fonologi (ashwat), morfologi (sharaf), sintaksis/Kalimat (nahwu), semantik (dalālah), dan kosakata (mufradāt).

Dilihat dari sisi bentuk komunikasi yang dilakukan, keterampilan menyimak (mahārat al-istimā’), merupakan salah satu bentuk keterampilan berbahasa yang diklasifikasikan sebagai keterampilan berbahasa pasif (reseptif), dimana salah satu pihak berperan sebagai pengirim pesan (pembicara/penutur), sedangkan pihak lain (dalam hal ini, si pendengar), berperan sebagai penerima pesan.

Keterampilan menyimak sesungguhnya tidak dapat dipisahkan dari keterampilan berbahasa lainnya, yaitu berbicara, membaca, dan menulis. Kompetensi seorang siswa dalam keterampilan menyimak dapat diketahui wujudnya dalam menyampaikan atau mengungkapkan informasi secara lisan atau menuangkannya dalam bentuk tulisan. Dalam kegiatan membaca, kita akan dengan mudah memahami bahan bacaan, jika isi bahan bacaan tersebut telah kita dengar sebelumnya, baik melalui pembelajaran formal maupun non formal. Demikian juga dalam kegiatan menuangkan gagasan lewat tulisan. Kita akan mampu dengan mudah melakukan aktivitas menulis, jika kita kaya informasi, baik yang diperoleh melaui kegiatan menyimak maupun melalui kegiatan membaca.

Dengan kata lain, keterampilan menyimak merupakan sarat mutlak berkembangnya aspek linguistis dan kognitif manusia dalam mengakses informasi, serta menjadi mediator dalam proses pemerolehan dan pengembangan keterampilan bahasa secara komprehensif.

Para peneliti baru-baru ini memberikan statement berkaitan dengan alokasi waktu yang dipergunakan manusia untuk berkomunikasi. Adapun hasil penelitian tersebut adalah sebagai berikut:

  1. dari jumlah total waktu yang dimiliki manusia, sebanyak 45% mereka gunakan untuk menyimak pembicaraan orang lain.
  2. dari jumlah total waktu yang dimiliki manusia, sebanyak 30% mereka gunakan untuk berbincang-bincang dengan orang lain.
  3. dari jumlah total waktu yang dimiliki manusia, sebanyak 25% mereka gunakan untuk kegiatan berbahasa lainnya, seperti membaca dan menulis[1].

Sedangkan hasil penelitian terhadap anak usia pendidikan dasar (SD) menyebutkan bahwa 50% dari waktu belajar siswa di sekolah digunakan untuk menyimak, sedangkan sisanya digunakan untuk kegiatan lainnya.

Hasil penelitian lain, seperti yang dilakukan seorang ahli Amerika Serikat,  Donald E Bird dalam Djago Tarigan[2] (1986:48) menunjukan bahwa kegiatan menyimak mahasiswa Stephen College Girls adalah  42% untuk kegiatan menyimak,  25%  kegiatan berbicara, 15% kegiatan membaca, dan  18% untuk kegiatan menulis.

Hasil-hasil penelitian diatas semakin  membuktikan bahwa dalam   kegiatan pembelajaran bahasa serta dalam kehidupan  sehari-hari, menyimak memegang peran yang sangat penting dan dominan.

Fuad effendi[3] mengatakan bahwa salah satu prinsip linguistik menyatakan bahwa bahasa itu pertama-tama adalah ujaran, yakni bunyi-bunyi bahasa yang diucapkan dan bisa didengar. Maka, atas dasar prinsip tersebut,  beberapa ahli pengajaran bahasa menetapkan satu prinsip bahwa pengajaran bahasa harus dimulai dengan mengajarkan aspek-aspek pendengaran dan pengucapan (ranah lisan) sebelum membaca dan menulis (ranah tulisan). Bahkan ada aliran yang menyatakan dengan tegas bahwa urutan keterampilan bahasa yang akan disampaikan kepada para siswa harus mengikuti urutan secara hirarkis : istimā – kalām – qirāah – kitābah.

Dengan demikian, pembelajaran keterampilan menyimak (mahārat al-istimā’) merupakan  pengalaman belajar yang amat penting bagi para siswa dan seyogyanya mendapat perhatian sungguh-sungguh dari pengajar.

Berkaitan dengan pentingnya mendahulukan pembelajaran istimā sebelum keterampilan bahasa lainnya, Ahmad Fuad Mahmud ‘Ilyan[4] mengemukakan beberapa alasan berkaitan dengan fungsi indera pendengaran dibanding dengan indra lainnya. Menurut beliau bahwa:

(1)     Indra pendengaran manusia yakni telinga merupakan alat interaksi manusia yang pertama berfungsi pasca kelahirannya. Beberapa ahli menyebutkan bahwa Indra pendengaran manusia mulai berfungsi pada hari ketiga pasca kelahiran. Sedangkan indra penglihatan manusia mulai berfungsi pada hari ketujuh pasca kelahiran.

(2)     Indra pendengaran manusia yakni telinga dapat berfungsi di semua arah. Dalam arti, manusia dapat mendengar suara-suara, baik yang berasal dari arah belakang, depan, sebelah kanan, sebelah kiri, bahkan dari dari tempat yang relatif jauh sekalipun tanpa melihat sumber suara tersebut.

(3)     Indra pendengaran manusia yakni telinga dapat berfungsi, baik dalam keadaan sadar maupun tidak sadar. Hal ini terjadi karena telinga tidak memiliki tutup sebagaimana yang ada pada mata. Di mana, pada saat tidur, kelopak mata akan menutup mata, sehingga mata tidak dapat berfungsi.

Pendengaran merupakan indra terpenting bagi manusia. Sebab, dengan mendengarkan manusia dapat berbicara, dapat mengaktualisasikan dirinya serta dapat mempelajari banyak hal. Dengan mendengarkan pula, manusia dapat menggapai apa yang ia inginkan. Pantaslah bila ada yang mengatakan bahwa, “disfungsi yang terjadi pada indra pendengaran dapat menimbulkan miskomunikasi”. Oleh sebab itu, bila seorang bayi lahir dengan indra pendengaran yang cacat, ada kemungkinan kemampuan berbicaranya juga akan terhambat, bahkan bisa saja bayi tersebut tak dapat bicara (bisu).

Kamal Ibrahim Badri[5] mengemukakan bahwa dalam pembelajaran bahasa Arab sebagai bahasa Asing ada beberapa prinsip yang harus diperhatikan oleh para guru. Menurutnya, paling tidak, ada lima prinsip penting dalam pembelajaran bahasa Arab, yaitu: Aulawiyat al-taqdim (Prinsip Prioritas), Al-diqqah (Prinsip Akurasi), Al-tadarruj (Prinsip Gradasi), unshur al-tasywiq (Prinsip Pemberian Motivasi), dan Al-shalabah wa al-matanah (Prinsip Validasi).

Yang termasuk kedalam prinsip Prioritas, diantaranya adalah: Menyimak dan bercakap lebih didahulukan dari pada latihan membaca dan menulis; Mengajarkan kalimat lebih didahulukan dari pada mengajarkan kata; Mengajarkan kosa kata yang sering dipakai/berfrekwensi tinggi harus lebih didahulukan sebelum kosa kata yang lainnya.

Walaupun  kegiatan dan keterampilan menyimak  memiliki peran yang sangat besar dalam program pembelajaran bahasa Arab, namun pembelajaran menyimak di sekolah-sekolah sampai saat ini belum mendapat perhatian yang memadai. Hal itu sedikit banyaknya, sebagaimana dikatakan oleh Fadhil Fathy Muhammad Waly[6] dipengaruhi oleh beberapa faktor berikut:

  1. Missinterpretasi terhadap ciri khas kegiatan menyimak, urgensi serta pengaruh menyimak terhadap keterampilan bahasa lainnya.
  2. Adanya persepsi yang mengklaim bahwa keterampilan menyimak berkembang dengan sendirinya secara bertahap seiring perkembangan manusia mulai fase anak-anak hingga fase dewasa.
  3. Adanya teori sebagian pakar yang mengklaim bahwa keterampilan menyimak sudah include dalam keterampilan membaca. Sehingga, para pakar tersebut mencetuskan teori read to listen.
  4. Minimnya para peneliti dan pemerhati yang melakukan studi terhadap keterampilan serta pengaruh menyimak terhadap keterampilan bahasa lainnya.
  5. Minimnya pengalaman para pengajar bahasa, sehingga mereka hanya mau mengajarkan bahasa seperti saat mereka belajar puluhan tahun yang lalu[7].

Kalau kita perhatikan, buku-buku teks pelajaran bahasa Arab yang ada dan beredar di sekolah-sekolah kita, dari tingkat dasar sampai tingkat perguruan tinggi, khususnya yang ditulis oleh penulis pribumi (orang Indonesia), masih sangat jarang yang memuat materi pelajaran istimā’ secara khusus.

Perhatian terhadap pembelajaran istimā’ baru mengemuka sejalan dengan diterapkannya Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) 2006, yang realisasinya untuk mata pelajaran Bahasa Arab, terdapat pada Standar Kompetensi Lulusan (SKL) dan Standar Isi (SI) sesuai Permenag no. 2. Tahun 2008[8]. Pada kurikulum KTSP ini, keterampilan menyimak termasuk salah satu Standar Kompetensi mata pelajaran bahasa Arab yang harus dikuasai oleh siswa pada tiap satuan pendidikan (MI, MTs, dan MA).

Kondisi seperti ini, berdasarkan pengamatan penulis di beberapa MTS dan MA di Kota dan Kabupaten Cirebon, membuat para guru masih kebingungan dalam mengimplementasikan kegiatan untuk pembelajaran keterampilan menyimak. Selain karena belum adanya panduan pembelajaran keterampilan menyimak dalam buku ajar yang digunakan selama ini, juga karena minimnya pengalaman sebagian guru bahasa Arab untuk mengembangkan sendiri model pembelajaran keterampilan menyimak. Sehingga jalannya pembelajaran menyimak, hampir tidak ada bedanya dengan pembelajaran berbicara dan membaca, karena materi atau bahan ajar menyimak yang disediakan dalam buku ajar yang menjadi rujukan mereka sulit dimplementasikan, karena penyajian bahan ajar menyimak dalam buku-buku tersebut sama saja dengan  bahan ajar berbicara atau membaca[9].

Untuk memberikan gambaran dan panduan dalam kegiatan pembelajaran keterampilan menyimak bagi para guru bahasa Arab, para mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab (PBA), dan para pemerhati serta praktisi pembelajaran Bahasa Arab pada umumnya, di bawah ini akan diuraikan beberapa hal yang berkaitan dengan pembelajaran keterampilan menyimak, seperti: Hakekat istimā’, Tujuan Pembelajaran istimā’,  Sarana/media Pembelajaran istimā’, Teknik Pembelajaran istimā’, Materi Pembelajaran istimā’, Peran Guru dalam Pembelajaran istimā’, , dan  Evaluasi Pembelajaran istimā’.

Bersambung……


[1] Fadhil Fathy Muhammad Waly. 1998.Tadris al-Lughah al-Arabiyyah Fy al-Marhalah al-Ibtida’iyyah: Thuruquhu, Asalibuhu, Qadhayahu. Ha’il: Dar al-Andalus Li al-Nasyr wa al-Tauzi’. Hal. 145

[2] Djago Tarigan dan Henry Guntur Tarigan. 1986. Teknik Pengajaran Keterampilan Berbahasa. Bandung: Angkasa. Hal. 48.

[3] Ahmad Fuad Effendy. 2004. Metodologi Pengajaran Bahasa Arab. Malang: Misykat. Hal. 100

[4] Ahmad Fuad Mahmud ‘Ilyan. 1992. Al-Maharat al-Lughawiyah: Mahiyatuha wa Thara’iq Tadrisiha. Riyadh: Dar al-Muslim Li al-Nasyr wa al-Tauzi’. Hal. 49

[5] Lihat, Badri, Kamal Ibrahim. 1407. Usus Ta’lim al-Lughah al-Ajnabiyah dalam Mudzakarat al-daurat al-tarbawiyah. Al-Mamlakah al-Arabiyah al-Su’udiyah, Jami’at al-Imam Muhammad bin Su’ud al-Islamiyah, Ma’had al-Ulum al-Islamiyah wa al-Arabiyah bi Indunisia, hal. 3

[6] Fadhil Fathy Muhammad Waly, ibid. Hal 144

[7] Lihat juga Rusydi Ahmad Thaa’imah. Al-Marji’ Fy Ta’lim al-Lughah al-Arabiyyah Li al-Nathiqin Bi Lughat Ukhra. Juz. 2. Makkah: Jami’at Umm al-Qura. Hal 419-420.

[8] Lihat Permenag no. 2. Tahun 2008 tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi

[9] Berdasarkan pemantauan penulis, mayoritas MTS dan MA di Kota dan Kabupaten Cirebon menggunakan LKS sebagai satu-satunya rujukan dan pegangan siswa dalam pembelajaran bahasa Arab.

Gambar

031

031

Gambar

Bahasa MA

Bahasa MA

Bahasa Arab MTS dan MA
Mata pelajaran bahasa Arab memiliki kedudukan yang sangat strategis dalam pengembangan ilmu-ilmu keislaman, termasuk di Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madraah Aliyah (MA), maka pelajaran ini perlu mendapatkan perhatian yang serius dari berbagai pihak untuk mendorong, membimbing, mengembangkan, dan membina kemampuan peserta didik dalam penguasaan bahasa Arab baik reseptif maupun ekspresif, serta menumbuhkan sikap positif terhadap bahasa tersebut. Kemampuan reseptif yaitu kemampuan untuk memahami pembicaraan orang lain dan memahami bacaan. Kemampuan ekspresif yaitu kemampuan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasi baik secara lisan maupun secara tertulis. Kemampuan berbahasa Arab serta sikap positif terhadap bahasa Arab tersebut sangat penting dalam membantu memahami sumber ajaran Islam yaitu al-Qur’an dan Hadits, serta kitab-kitab berbahasa Arab yang berkenaan dengan Islam bagi peserta didik.
Namun, sarana untuk pengembangan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, khususnya di sekolah-sekolah formal, belum mengalami perkembangan yang memadai termasuk dalam penyediaan buku-buku pelajaran.
Untuk itu, sebagai orang yang berkecimpung dalam dunia pendidikan, saya merasa terpanggil untuk berpartisipasi menyusun sebuah buku pelajaran bahasa Arab untuk MTs dan MA, sebagai sebuah pengabdian dan upaya membantu para siswa khususnya dan juga para pengajarnya dalam penguasaan berbagai keterampilan bahasa Arab secara efektif dan efisien serta menyenangkan.
Penulisan buku yang sala lakukan mengacu pada standar kompetensi lulusan (SKL) sebagaimana tertuang dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) yang telah disesuaikan dan disempurnakan, sesuai Permenag no. 2 tahun 2008
Setiap dars (pelajaran) dalam buku yang saya tulis mengajarkan satu tema sentral sebagai pokok bahasan yang memuat standar kompetensi dan kompetensi dasar yang harus dikuasai siswa yang didesain dalam empat komponen yang saling berkaitan dan disajikan secara seimabang dan proporsional. Adapun urutan penyajiannya adaalah sebagai berikut:
A. Menyimak/Istima’
Merupakan sajian pertama yang dikemas untuk membantu siswa agar terlatih dan mampu memahami berbagai wacana lisan melalui kegiatan mendengarkan berbagai kata, frasa, dan kalimat atau gagasan dan dialog sederhana.
B. Berbicara/Kalam
Merupakan sajian kedua yang dikemas untuk membantu siswa agar mampu mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman serta informasi melalui kegiatan bercerita dan bertanya jawab.
C. Membaca/Qiraah
Merupakan sajian ketiga yang dikemas untuk membantu siswa agar mampu memahami berbagai ragam teks tulis dalam bentuk gagasan atau dialog sederhana, melalui kegiatan membaca, menganalisis dan menemukan pokok pikiran.
D. Menulis/Kitabah
Merupakan sajian keempat yang dikemas untuk membantu siswa agar mampu mengungkapkan pikiran, gagasan, perasaan, pengalaman dan informasi melalui kegiatan menulis.
Untuk menambah tingkat penguasaan siswa terhadap materi yang sudah dipelajari, disamping empat komponen utama tadi, di akhir setiap dars ditambahkan komponen lain yaitu:
E. Tarakib
Bagian ini merupakan simpulan dari sisi gramatikal yang terdapat dalam tema yang sudah dipelajari. Dalam bagian ini, guru tidak perlu mejelaskan unsur tata bahasa terlalu detail, apa lagi memperkenalkan peristilahan nahwu dan sharaf yang cukup rumit dan masih asing bagi siswa pemula.
F. Tamrinat
Bagian ini disajikan di akhir setiap dars atau setiap bab untuk mengukur tingkat penguasaan siswa terhadap seluruh materi yang sudah dipelajari pada bagian-bagian sebelumnya yaitu, istima’ kalam, qira’ah, dan kitabah serta unsur tata bahasa (tarakib) yang diprogramkan dalam bab tersebut. Bagian ini sebaiknya dikerjakan secara individual baik di kelas maupun di rumah sebagai wajib manzili (PR).

Apa Kabar All

Semoga semangat dalam beraktifitas

Seminar Internasional Pendidikan Bahasa Arab